Jumat, 19 Juli 2013

Pendekatan Tematik Terpadu


PENDEKATAN  TEMATIK TERPADU


Kelebihan pembelajaran tematik terpadu, memiliki perbedaan kualitataif           (qualitatively different) dengan model pembelajaran lain, karena sifatnya memandu peserta didik mencapai kemampuan berfikir tingkat tinggi (higher levels of thingking) atau ketrampilan berfikir dengan mengoptimasi kecerdasan ganda ( multiple thingking skills), sebuah proses inovatif bagi pengembangan dimensi sikap, ketrampilan dan pengetahuan.

 Dengan dilaksanakan kurikulum 2013  mulai tahun pelajaran 2013/1014 ini banyak hal yang perlu para guru untuk diketahui, karena perubahan kurikulum ini cukup mendasar terutama pada proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran kita kenal Tematik terpadu, integratif, pendekatan scientifik, kolaboratif dan masih banyak yang lain. Pada kesempatan kali ini akan dibahas satu demi satu tentang hal-hal baru bagi guru yang diawali dengan Tematik di SD walaupun istilah beberapa sebenarnya sudah tidak asing lagi.


Proses pembelajaran untuk jenjang Sekolah Dasar atau yang sederajat menggunakan pendekatan pendekatan tematik.  Model pembelajaran tematik terpadu (PTP) atau integrated thematic instruction (ITI) dikembangkan pertama kali pada awal tahun 1970-an. Belakangan PTP diyakini sebagai salah satu model pengajaran yang efektif (highly effective teachingmodel), karena mampu mewadahi dan menyentuh secara terpadu dimensi emosi, fisik, dan akademik di dalam kelas atau di lingkungan sekolah. Model PTP ini pun sudah terbukti secara empirik berhasil memacu percepatan dan meningkatkan kapasitas memori peserta didik (enhance learning and increase long-term memory capabilities of learners) untuk waktu yang panjang.

Pembelajaran tematik integratif yang sering juga disebut sebagai pembelajaran tematik terintegrasi(integrated thematic instruction, ITI)asalinya dikonseptualisasikan tahun 1970an. Pendekatan pembelajaran ini awalnya dikembangkan untuk anak-anak berbakat dan bertalenta (gifted and talented), anak-anak yang cerdas, program perluasan belajar, dan peserta didik yang belajar cepat.

Premis utama PTP bahwa peserta didik memerlukan peluang-peluang tambahan (additional opportunities) untuk menggunakan talentanya, menyediakan waktu bersama yang lain untuk secara cepat mengkonseptualisasi dan mensintesis. Pada sisi lain, model PTP relevan untuk mengakomodasi perbedaan-perbedaan kualitatif lingkungan belajar. Model PTP diharapkan mampu menginspirasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar.

Model PTP memiliki perbedaan kualitatif (qualitatively different) dengan model pembelajaran lain, karena sifatnya memandu peserta didik mencapai kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher levels of thinking) atau keterampilan berpikir dengan mengoptimasi kecerdasan ganda (multiple thinking skills), sebuah proses inovatif bagi pengembangnan dimensi sikap, keterampilan dan pengetahuan.

A.      Elemen-elemen Terkait dalam PTP

Implmementasi PTP menuntut kemampuan guru dalam mentransformasikan materi pembelajaran di kelas. Karena itu guru harus memahami materi apa yang diajarkan dan bagaimana mengaplikasikannya dalam lingkungan belajar di kelas. Oleh karena Model PTP ini bersifat ramah otak, guru harus mampu mengidentifikasi elemen-elemen lingkungan yang mungkin relevan dan dapat dioptimasi ketika berinteraksi dengan peserta didik selama proses pembelajaran. Ada sepuluh elemen yang terkait dengan ini dan perlu ditingkatkan oleh guru.
1.        Mereduksi tingkat kealpaan atau bernilai tambah berpikir reflektif
2.        Memberkaya sensori pengalaman di bidang sikap, keterampilan, dan pengetahuan
3.        Menyajikan isi atau substansi pembelajaran yang bermakna
4.        Lingkungan yang memperkaya pembelajaran
5.        Bergerak memacu pembelajaran Movement to Enhance Learning
6.        Membuka pilihan-pilihan
7.        Opimasi waktu secara tepat
8.        Kolaborasi
9.        Umpan balik segera
10.    Ketuntasan atau aplikasi
B.       Manfaat Pendekatan Tematik Terpadu
1.         Suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan. Suasana kelas memungkinkan semua orang yang ada di dalamnya memiliki rasa mau menanggung resiko bersama. Misalnya, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak benar tanpa harus menyinggung perasaan peserta didik. Prosedur-prosedur kerja keseharian, memastikan bahwa semua jadwal terprediksi, dan menjamin peserta didik merasa selami aman selama berada di kelas dan di luar kelas.Keterampilan hidup dikenali, didiskusikan dan dipraktikkan oleh peserta didik dengan interaksi yang tepat dan dengan perasaan yang menyenangkan dalam komunitas ruang kelas.
2.         Menggunakan kelompok kerjasama, kolaborasi, kelompok belajar, dan strategi pemecahan konflik yang mendodong peserta didik untuk memechkan masalah sosial dan saling menghargai.
3.         Mengoptimasi lingkungan belajar sebagai kunci kelas yang ramah otak (brain-friendly classroom). Aktivitas belajar melibatkan subjek belajar secara langsung, mengoptimasi semua sumber belajar, dan memberi peluang peserta didik untuk mengesplorasi materi secara lebih luas.
4.         Pdeserta didik secara cepat dan tepat waktu mampu memproses informasi.Proses itu tidak hanya menyentuh dimensi kuantitas dan kualitas mengeksplorasi konsep-konsep baru dan membantu peserta didik mengembangkan pengetahuan secara siap.
5.         Proses pembelajaran di kelas mendorong peserta didik berada dalam format ramah otak.
6.         Materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru dapat diaplikasikan langsung oleh peserta didik dalam kehidupannya sehari-hari.
7.         Peserta didik yang relatif mengalami keterlambatan untuk menuntaskan program belajar dapat dibantu oleh guru dengan cara memberikan bimbingan khusus dan menerapkan prinsip belajar tuntas.
8.         Program pembelajaran yang bersifat ramah otak memungkinkan guru untuk mewujudkan ketuntasan belajar dengan menerapkan variasi cara penilaian.

 

C.      Tahap-tahap Pembelajaran Tematik  Terpadu


1.         Menentukan tema. Tema dapat ditetapkan oleh guru dan sesekali dapat ditetapkan bersama dengan peserta didik. Tema itu ditetapkan secara tematik terpadu, ddapat dilakukan oleh guru sendiri dan dimungkinkan disepakati bersama dengan peserta didik.
2.         Mengintegrasikan tema dengan kurikulum yang berlaku. Pada tahap ini guru harus mampu mendesain tema pembelajaran dengan cara terintegrasi sejalan dengan tuntutan kurikulum, dengan mengedepankan dimensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
3.         Mendesain rencana pembelajaran dan kegiatan kokurikuler. Tahapan ini mencakup pengorganisasian sumber-sumber dan aktivitas-aktivitas ekstrakurikuler dalam rangka mendemonstrasikan tema. Misalnya, melalui studi wisata, berkunjung ke museum, dan lain-lain.
4.         Aktivitas kelompok dan diskusi. Aktivitas ini memampukan peserta didik untuk berpartisipasi dan mencapai berbagi persepektif darin tema. Hal ini membangu guru dan peserta didik dalam mengeksplorasi subjek.

D.   Prinsip-prinsip Pembelajaran Tematik Terpadu

1.         Tema hendaknya tidak terlalu luas dan dapat dengan mudah digunakan untuk memadukan banyak bidang studi,
2.         Tema yang dipilih memberikan bekal bagi peserta didik untuk belajar selanjutnya
3.         Tema disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik.
4.         Tema harus mampu mewadahi sebagian besar minat anak,
5.         Tema harus mempertimbangkan penstiwa-peristiwa otentik yang terjadi dalam rentang waktu belajar
6.         Tema yang dipilih sesuai dengan kurikulum yang berlaku
7.         Tema yang dipilih sesuai dengan ketersediaan sumber belajar.

G. Model-model Pembelajaran Terpadu
Pembelajaran Tematik Terpadu dapat diimplementasikan dengan beragam model. Menurut Robin Fogarty  (1991) ada sepuluh model PTP, seperti disajikan berikut ini.
1.        Model penggalan (fragmented model). Model ini diimplementasikan dengan pemaduan yang terbatas pada satu mata pelajaran. Misalnya, mata pelajaran bahasa Indonesia materi pembelajaran tentang menyimak, berbicara, membaca dan menulis dapat dipadukan dalam materi pembelajaran ketrampilan berbahasa.
2.        Model keterhubungan (connected model). Model ini diimplementasikan berbasis pada anggapan bahwa butir-butir pembelajaran dapat dipayungkan pada induk mata pelajaran tertentu. Butir-butir pembelajaran seperti: kosakata, struktur, membaca, dan mengarang misalnya dapat dipayungkan pada mata pelajaran bahasa dan sastra.
3.        Model sarang (nested model). Model ini diimplementasikan dengan memadukan berbagai bentuk penguasaan konsep ketrampilan melalui sebuah kegiatan pembelajaran. Misalnya, pada jam-jam tertentu guru memfokuskan kegiatan pembelajaran pada pemahaman bentuk kata, makna kata,dan ungkapan dengan saran pembuahan ketrampilan dalam mengembangkan daya imajinasi, daya berfikir logis, menentukan ciri bentuk dan makna kata-kata dalam puisi, membuat ungkapan dan menulis puisi.
4.        Model Urutan/Rangkaian (sequenced model). Model inimemadukan topik-topik antarmata pelajaran yang berbeda secara pararel. Isi  cerita dalam roman sejarah, misalnya: topik pembahasannya secara pararel atau dalam jam yang sama dapat dipadukan dengan ikhwal sejarah perjuangan bangsa karakteristik kehidupan sosial masyarakat pada periode tertentu maupun topik yang menyangkut perubahan makna kata.
5.        Model berbagi (shared/participative model). Model inimerupakan pemaduan pembelajaran akibat munculnya tumbang-tindih (overlapping concept) atau ide pada dua mata pelajaran atau lebih. Buir-butir pembelajaran tetang kewarganegaraan dalam PKn misalnya,dapat bertumpang tindih dengan butir pembelajaran Tata Negara, Sejarah Perjuangan Bangsa, dan sebagainya.
6.        Model jaring laba-laba (webbed model). Model ini berangkatdari pendekatan tematis sebagai acuan dasar bahan dan kegiatan pembelajaran. Tema yang dibuat dapat mengikat kegiatan  pembelajaran, baik dalam mata pelajaran tertentu maupun antarmata pelajaran.
7.        Model galur (threaded model). Model inimemdukan bentuk-bentuk ketrampilan. Misalnya: melakukan prediksi dan estimasi dalam matematika, ramalan terhadap kejadian-kejadian, antisipasi terhadap cerita, dsb. Bentuk model  ini terfokus pada meta kurikulum.
8.        Model celupan (immersed model). Model ini dirancang untuk membantu peserta didik dalam menyaring dan memadukan berbagai pengalaman dan pengetahuan dihubungkan dengan medan pemakaiannya. Kegiatan pembelajaran diarahkan untuk mewadahi tukar pengalaman dan pemanfaatan pengalaman masing-masing.
9.        Model jejaring (networked model). Model ini merupakan model pemaduan pembelajaran yang mengandaikan kemungkinan perubahan konsepsi, bentuk pemecahan masalah, maupun tuntutan bentuk ketrampilan baru setelah peserta didik mengadakan studi lapangan dalam situasi, kondisi, maupun konteks yang berbeda.
10.    Model terpadu (integrated model). Model ini merupakan pemaduan sejumlah topik dari mata pelajaran yang berbeda, tetapi esensinya sama dalam sebuah topik tertentu. Topik evidensi yang semula terdapat dalam pelajaran matematika,bahasa Indonesia, IPA,  dan IPS agar tidak membuat muatan kurikulum berlebihan, cukup diletakkan dalam mata pelajaran tertentu, misalnya IPA.
Sumber : Depdikbud, 2013


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar